Apa itu Negative Self-Talk dan Mengapa Lebih Sering dialami oleh Wanita di Indonesia?

Uncategorized90 Dilihat
banner 468x60

Negative self-talk Adalah saat seseorang mengucapkan kata-kata yang merendahkan dirinya dengan nada keras, baik dalam pikiran ataupun keluar dari mulutnya.

Psikolog klinik bernama Kezia Toto mengatakan bahwa berbicara pada diri sendiri adalah hal yang wajar dalam rangkaian pemikiran manusia. Akan tetapi, apakah itu semua?
negative self-talk?

banner 336x280
  • Wanita Lebih Mudah Terpapar Stres, Inilah Efek Buruk Self-Talk terhadap Kesehatan Jiwa
  • Saran Perawatan Diri Berdasarkan Zodiak, Gemini Memerlukan Ketenangan dan Cancer Membutuhkan Kenyamanan

“Negative self-talk Itu sendiri sebenarnya belum tentu berbahaya. Namun, apabila hal tersebut mulai membingungkan, bersikap kasar pada diri sendiri, secara konstan memberikan penilaian buruk terhadap diri sendiri, serta sering kali menghina diri sendiri, baru kemudian hal itu bisa menjadi berisiko,” ungkap Kezia saat melakukan dialog introspektif tentang hal ini.
negative self-talk di Manzo, Jakarta, Selasa (24/6/2025)

Perempuan sering mengalami negative self-talk, kenapa?

Kezia melanjutkan, negative self-talk Sering dihadapi oleh wanita. Berdasarkan pendekatan psikososial, penyebabnya meliputi beberapa aspek seperti kepribadian, genetika, serta pengaruh lingkungan sekitarnya.

Bagi urusan lingkungan sekitar, sejak kecil perempuan diajarkan untuk menyerap segala sesuatu yang disampaikan oleh orang-orang di seputarnya.

“Dan pria, dengan kontras, dikenalkan untuk mengekspresikan diri melalui tindakan dan agresivitas. Hal ini pun tercermin dalam data kesehatan mental saat kita memeriksa masalah-masalah ekternal,” jelas Kezia.

Sebagai contoh adalah adanya kondisi seperti stres berlebihan, kecanduan, hingga depresi, yang cenderung dialami lebih banyak oleh wanita, sementara pria justru lebih sering menghadapi masalah terkait dengan pola perilaku mereka.

  • Rahasia Self Love Jessica Iskandar: Luangkan Waktu untuk Merawat Diri Meski Sibuk Sebagai Ibu
  • Cinta pada Diri Sendiri seperti Enzy Storia, Bepergian dengan Sepatu yang Nyaman

Perempuan dituntut sempurna

Felicia Kawilarang, pendirinya dari Ryse and Shyne, sebuah komunitas dan ruang yang mendorong kesejahteraan emosional wanita, mengatakan bahwa dirinya juga telah menjalani hal tersebut.
negative self-talk.

“Suara dalam pikiranku berkata bahwa aku belum mencukupi,” kata Felicia.

Suara itu berasal dari tekanan yang dialaminya sebagai wanita, di mana dia merasa perlu untuk selalu menjadi perfeksionis.

Dia juga senantiasa berperasaan perlu untuk memilikinya
image
Tertentu, dan apa yang telah dilakukan sampai sekarang belum mencukupi. Menurut Felicia,
negative self-talk
Sepertinya hal ini mungkin juga dialami oleh wanita lain.

“Saya pikir wanita sering kali berpikiran bahwa masih banyak tugas yang belum terselesaikan. Pikiran kami senantiasa berkata bahwa kami mampu untuk melaksanakan pekerjaan tambahan,” ungkapnya.

Survei tentang
negative self-talk

Yang disampaikan oleh Kezia dan Felicia semakin didukung oleh temuan dari survey yang dijalankan Ipsos Global Advisor pada hari Kesehatan Jiwa Dunia tahun 2023.

Studi mengindikasikan bahwa wanita umumnya lebih mudah merasa stres hingga mempengaruhi kehidupan sehari-hari daripada pria.

Dalam survei yang melibatkan 31 negeri tersebut, lebih dari tiga puluh persen wanita menjawab bahwa mereka telah merasakan berbagai macam tekanan berkali-kali selama tahun lalu. Tekanan-tekanan itu turut mempengaruhi rutinitas harian mereka dikarenakan kesulitan untuk menanganinya dengan efektif.

Menggugah adalah bahwa hambatan utama dari tekanan itu bukannya selalu berasal dari eksternal. Biasanya, kritikan yang paling berat sering datang dari suara internal kita sendiri.

Sebenarnya, bagaimana seseorang berkomunikasi dengan dirinya sendiri memiliki dampak signifikan terhadap tingkat kepercayaan diri, kapabilitas dalam pengambilan keputusan, dan kesejahteraan mental secara umum.

Bagaimana cara menghadapi
negative self-talk?

Kezia menyarankan bahwa tahap pertama yang dapat diambil adalah dengan menyadarai apa yang ada dalam pemikiran kita. Kemudian, “ganggu” pemikiran itu dengan melakukan pernapasan masuk dan keluar.

Berikutnya, buatlah area bagi diskusi yang lebih terbuka, misalnya dengan mencatat jurnal (
journaling
) atau berkomunikasi dengan seseorang yang Anda percayai.

“Melalui tahap ini, kita secara bertahap mempelajari bagaimana caranya tidak hanya berada di dalam pemikiran, tapi juga menjadi sadar akan keberadaan fisikal kita, atau dengan kata lain mengenali sepenuhnya pengalaman dan emosi yang tengah kita rasakan,” terangkan Kezia.

Dari situ, manusia dapat mengawali pembentukan cara bercakap yang lebih penuh dengan keramahtamahan dan belas kasihan terhadap diri mereka sendiri.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *