Dari Psikolog: Saran bagi Orang Tua saat Anak menjadi Korban Penyelundupan Seksualitas

News220 Dilihat
banner 468x60



– Insiden pelecehan seksual terhadap anak di Bekasi, Jawa Barat, sungguh menyedihkan. Terutama mengingat pelakunya berumur 8 tahun sementara korbannya hanya berusia 4 tahun. Baik orangtua dari pihak korban maupun pelaku juga merasakan kesedihan yang mendalam.

Psikolog Dody Tri mengingatkan orangtua agar jangan pernah menuntut korban supaya dengan cepat pulih dari luka psikis yang mereka alami. Biasanya, orang tua merasa sangat terpukul saat menyaksikan keadaan sang buah hati yang menjadi suram dan penuh ketakutan. Mereka pastinya ingin anaknya dapat segera kembali ke suasana hati seperti sedia kala.

banner 336x280

“Ya udah, jangan diingat lagi, yuk bersemangat, masa lalu tinggal dibelakang,” kata Dody Tri mencontohkan ucapan orang tuanya yang selalu ingin menghindari kesedihan pada anaknya.
, Rabu (11/6).

Dody Tri menyatakan bahwa pandangan tersebut keliru. Baginya, luka emosi dan trauma tak dapat disembuhkan hanya karena orangtua memintanya supaya cepat pulih. “Apa yang diperlukan anak bukanlah nasihat keras agar menjadi lebih tangguh, melainkan sebuah dekapan yang memberitahu mereka: ‘Kini kau sudah selamat, dan kau pantas mendapatkan pemulihan sesuai caramu,’” jelas Dody Tri.

Di samping itu, ia menekankan pentingnya bagi para orangtua supaya tak memaksakan anak mengubur kembali kenangan buruk yang dialaminya pasca menjadi korban kekerasan seksual. “Bantu mereka merasakan dihargai. Terkadang, hanya dengan berada disana dan mendengarkan sudah cukup membantu daripada ribuan nasehat,” ungkap Dody Tri.

Perlu diketahui bahwa dugaan perkara asusila yang menimpa seorang anak usia 8 tahun di Kota Bekasi baru-baru ini menjadi perhatian umum. Insiden tersebut mulai ditangani secara luas setelah NDP, sang ibu dari korban berusia 4 tahun, membagikan informasi tentang insiden tersebut via media sosial dan permintaannya akan dukungan serta perhatian semakin meningkat.

Waktu ibu dari si korban baru menyadari kalau buah hatinya jadi korban saat ia enggan tinggal di rumah orang tu suaminya untuk beberapa malam. Tambahan pula, sang anak pun menolak pergi ke masjid walaupun sudah waktu shalat dikabarkan melalui azan.

Ini terbilang ganjil bagi ibu si anak karena biasanya dia segera menuju mesjid saat mendengar adzan. Saat diinterogasi, ia mengakui bahwa temannya telah melakukanyakan perbuatan itu kepadanya beberapa kali dan tidak sekali saja, hingga tiga kali menurut pengakuannya.

Dia merasa marah dan kesal, bahkan hingga bergetar setelah mendengar bahwa putranya menjadi korban perlakukan tidak senonoh oleh sekelompok remaja lainnya.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *