China Siap Kurangi Impor Batu Bara dari Indonesia: Ini Alasannya Menurut Pengusaha

Makassar, News394 Dilihat
banner 468x60


.CO.ID – JAKARTA.

Penurunan kebutuhan impor batubara dari China diyakini akan bertahan hingga tahun 2025. Negara dengan sebutan Dinding bambu itu saat ini lebih bergantung pada hasil produksinya sendiri yang sedang meraih prestasi tertinggi. Hal ini menambah beban bagi harga batubara di pasar dunia serta ikut membentuk ulang performa penjualan eksternal Indonesia.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Indonesia (IMA), Hendra Sinadia, menyebut bahwa produksi batu bara di China untuk tahun ini diproyeksikan akan mencapai puncak baru sebesar kira-kira 4,7 miliar ton. Jumlah itu diperkirakan hampir sama dengan volume yang dicatatkan pada tahun 2024.

banner 336x280

“Di aspek lainnya, konsumen berpendapat bahwa kebutuhan batu bara mereka kemungkinan akan menurun seiring dengan inventaris yang tetap dalam jumlah besar, sehingga estimasi untuk impor bakal lebih sedikit dibandingkan tahun ini,” ujar Hendra saat ditemui oleh pada hari Kamis (12/6).

Sepanjang tahun 2024, impor batubara panas milik Tiongkok mencatatkan angka kira-kira 421 juta ton. Menurut sebuah pelaporan dari Reuters pada hari Rabu tanggal 11 Juni, ada potensi penurunan yang cukup besar untuk impor batubara di Cina baik untuk tahun ini maupun tahun mendatang, yaitu berkisar antara 50 sampai dengan 100 juta ton metric. Ungkapan tersebut disampaikan oleh Wu Zhiping, wakil presiden Asosiasi Pengiriman dan Penyebaran Batubara China, saat menghadiri Konferensi Coaltrans China.

Pengurangan impor tidak hanya dialami oleh China. India juga menampilkan pola yang mirip karena adanya peningkatan produksi dalam negeri serta kelimpahan pasokan batu bara. Kedua negara ini, yang biasanya merupakan tujuan utama ekspor dari Indonesia, mungkin akan memangkas pembelian mereka.

“Penurunan permintaan dari China dan India, akibat overproduksi dan inventaris yang tinggi, dengan jelas menghimpit harga. Sebaliknya, beban biaya produksi perusahaan pertambangan batu bara pun semakin naik, hal ini sebagian besar dikarenai oleh kebijakan B40, kenaikan tarif royalti, serta wajib pemasangan DHE yang memengaruhi biaya bunga,” papar Hendra.

Hal ini membuat marjin bisnis menjadi lebih sempit, apalagi dengan harga batu bara dunia yang mencapai titik terendahnya dalam beberapa tahun belakangan.

Tekanan itu mulai terlihat dalam performa ekspor batubara Indonesia. Menurut data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), volume ekspor batubara Indonesia antara Januari sampai April 2025 hanya berkisar 160 juta ton. Jumlah ini lebih rendah daripada angka 171 juta ton di periode serupa tahun sebelumnya.

Kepala Direktorat Jenderal Sumber Daya Minerba di Kementerian ESDM, yaitu Rita Susilawati, menyampaikan bahwa pihaknya siap berkonsultasi dengan para pengusaha tentang penilaian Harga Patokan Batubara (HBA), sehingga dapat mempertahankan persaingannya yang sehat.

“Ekspor batubara merupakan urusan
business-to-business
Yang berlokasi di luar campur tangan pemerintah. Meski demikian, kita tetap mengawasi perubahan pasar,” ujar Rita kepada pada hari Kamis (12/6).

Selanjutnya, Rita mengatakan bahwa pemerintah mendukung peningkatan variasi pasar ekspor dengan cara kerjasama bilateral, kampanye perdagangan, serta memberikan informasi tentang pasar internasional.

“Kegiatan ekspor-impor ini turut melibatkan beberapa departemen dan institusi lain seperti Kementerian Perdagangan serta Kementerian Perhubungan yang memiliki tanggung jawab dalam hal pemberian izin, negosiasi perdagangan, dan promosi ke luar negeri,” jelas Rita.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *