Rumahnya Rusak Akibat Perang Kelompok, Warga Curhat di Medsos ke Kapolrestabes

News178 Dilihat
banner 468x60

Seorang warga Bara-baraya Timur curhat di Medsos akibat terganggu dengan perang kelompok yang tak kunjung berhenti. Ia pun meminta aparat kepolisian bertindak tegas untuk menyelesaikan masalah tersebut. Berikut isi curhatannya di akun instagram @adityabnb:

banner 336x280

Pak Kapolrestabes, Pak Kapolda,

Kami Butuh Bantuan, Butuh Keadilan

Saya salah seorang warga Makassar yang tinggal di Bara-baraya Timur, RT.005/RW.005. Malam tadi, hingga dini hari, rumah kami kembali dihujani benda (mungkin batu). Saya katakan mungkin, karena saat kejadian kami tidak berani keluar rumah untuk mengecek. Saat pagi hari, kami menemukan banyak batu di halaman rumah.

Ironisnya, Ini bukan kejadian pertama. Tapi sudah kejadian berkali-kali. Karenanya, sudah berkali-kali pula atap rumah kami yang bocor diperbaiki. Tapi kejadian terus berulang. Makanya, kami yang awalnya tidak peduli, mulai sangat terganggu. Urusan mereka, yang kami sama sekali tidak tahu menahu, tapi kenapa kami yang harus jadi korban. Sudah berapa kali juga kami terhalang untuk kembali ke rumah hanya karena kejadian perang kelompok yang tidak jelas hasil, tujuan, dan penyebabnya itu.

Pak Kapolrestabes, Pak Kapolda, sampai kapan ini akan terus terjadi. Anak saya yang masih kecil sampai tidak bisa tidur nyenyak gara-gara bunyi seng yang bertalu-talu kena lemparan benda. Mohon bantuannya Pak, kami butuh keamanan. Butuh kenyamanan, dan butuh keadilan. Untuk sesuatu yang bukan urusan kami, kenapa kami yang harus jadi korban?

Saya tahu, polisi sudah beberapa kali juga turun ke lokasi saat kejadian. Tapi itu hanya menghentikan kejadian sesaat. Karena malam berikutnya, atau bahkan setelah polisi meninggalkan lokasi, kembali terjadi. Dan kami kembali jadi korban. Terganggu dan rumah kami rusak akibat lemparan batu.

Maka mohon Pak! Bukankah soal perang kelompok ini menjadi atensi Pak Kapolri? Bukankah soal premanisme ini tengah menjadi atensi jajaran kepolisian? Lantas kenapa hal-hal yang mengganggu keamanan dan ketenteraman warga ini tak bisa diselesaikan. Kalau bapak turun ke lokasi, coba cek ke warga, berapa banyak yang harus jadi korban dari sesuatu yang tidak diketahui penyebabnya sama sekali. Dan anehnya, itu terus terjadi, berulang-ulang. Tidak ada penyelesaian.

Bahkan, mungkin bapak tidak tahu, ada anggota kepolisian yang juga warga setempat sudah pernah jadi korban. Nalurinya sebagai aparat mungkin mendorongnya turun berupaya menghentikan, tapi ia justru jadi korban. Ia terkena busur sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Apakah masalah sudah selesai? Tidak Pak! Kejadian masih terus terulang setelahnya. Butuh berapa banyak korban lagi Pak?

Karena terus berulang, mohon maaf kalau muncul kecurigaan bahwa pelaku tidak ditangkap. Jangan-jangan malah kasusnya juga tidak diproses di kepolisian untuk menangkap pelaku. Lalu, jika polisi saja yang jadi korban tidak diproses pelakunya, bagaimana jika yang jadi korban hanya warga biasa? Sementara kemungkinan jadi korban itu sangat bisa terjadi.

Pak Kapolrestabes, Pak Kapolda, apakah kejadian seperti ini bapak tidak tahu? Kalau bapak tahu, kenapa tidak ada penyelesaian. Ada apa dengan Makassar? Ada apa dengan para pemimpin di Kota Makassar?

Maafkan kalau sampai muncul kecurigaan bahwa kejadian ini tidak bisa selesai karena disengaja. Apa benar demikian Pak? Apa benar pemerintah sengaja “melindungi” preman-preman itu untuk kepentingan tertentu? Atau jangan-jangan sengaja “dipelihara” karena pemerintah tengah gencar-gencarnya dengan program Lorong wisata, sehingga juga akan dibuat wisata tawuran atau wisata perang kelompok?

Sesungguhnya, kalaupun itu memang dirancang untuk dipelihara, kami tidak peduli sekiranya kami tidak diganggu dan dirugikan. Masalahnya, kami yang dirugikan. Minimal harus keluarkan biaya perbaikan atap setiap selesai kejadian. Dan itu tentu saja tidak sedikit bagi kami. Belum lagi Hak untuk istirahat, hak keamanan, dan kenyamanan kami juga dirampas akibat kejadian tersebut. Orang mungkin bisa toleran sedikit tidak bebas dari rasa lapar, tapi orang tidak bisa sama sekali tidak bebas dari rasa aman.

Karena itu, Pak Kapolrestabes, Pak Kapolda, mohon bantuannya. Kami merindukan lokasi tinggal kami yang aman dan nyaman. Bukan hanya aman sesaat, semalam-dua malam, tapi selamanya. Bapaklah yang bisa mewujudkan itu.

Terima kasih kalau keluh kesah saya ini bisa dibaca dan direspon dengan baik. Mohon maaf kalau harus menulis curhatan ini di medsos.

Makassar, 5 Maret 2023

Salam Hormat

Andi Mutiah

 

banner 336x280