Bukan Kutukan, tapi Faktor Alam dan Ulah Manusia

News166 Dilihat
banner 468x60

Kepala Pusat Studi Kebencanaan Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Dr Eng. Ir Adi Maulana, ST., M.Phil membeberkan potensi bencana di Luwu Raya, khususnya Luwu Utara. Ia pun mengakui, potensi sumber daya alam (SDA) di Luwu Raya sangat menjanjikan. Hal itu diperoleh melalui penelitian disertasi yang dilakukan terkait Tektonik di Luwu Raya, tepatnya di Masamba.

“Potensi sumber daya alam di Luwu Raya sangat menjanjikan. Hanya saja, potensi yang dimiliki ini ibarat dua sisi mata uang. Satu sisi sangat menjanjikan dengan adanya sumber daya alam yang melimpah, tetapi di sisi lain tingkat ancaman bencananya sangat tinggi,” ungkapnya.

banner 336x280

Alumni Jepang ini memaparkan, data yang diperoleh SDA di Luwu Raya itu meliputi mineral, energi, pertanian, bahkan sumber  energi hijau. Dengan potensi tersebut, Luwu Raya memenuhi syarat menjadi daerah yang sangat maju.

Pada sisi lain, Kawasan ini merupakan zona merah karena 50 persen potensi bencana di Sulawesi itu ada di Luwu Raya. Apalagi di Luwu Utara. Bencana tersebut mencakup tektonik dan hidrometeorologi. Kawasan ini masuk dalam wilayah patahan matano.

“Kondisi ini membuat bencana hidrometeorologi adalah keniscayaan. Terbukti, saat bencana Masamba itu ada 220 juta kubik longsoran dan masih ada jutaan kubik yang masih menunggu untuk lepas,” ungkapnya.

Sehubungan dengan itu, Prof Adi kemudian menyarankan agar investasi ke depan di Luwu Raya adalah Investasi mitigasi bencana. Mitigasi bisa melalui struktural dan nonstruktural. Berikutnya adalah melakukan adaptasi.

“Yang paling penting disosialisasikan ke masyarakat adalah bahwa bencana itu bukan kutukan, tapi fenomena alam, dan juga ada unsur kealfaan manusia di dalamnya. Misalnya karena menebang pohon di hulu,” urainya.

Karena itu, ada pelajaran yang bisa diambil dari negara Jepang. Yang bisa beratus-ratus kali gempa, tetapi memiliki infrastruktur yang paling canggih, tahan gempa, dan siap, sehingga tidak lagi jatuh korban akibat bencana yang terjadi.

Apakah pilihan untuk memindahkan Kota Masamba itu tepat? Prof Adi menegaskan, bukan dipindahkan, tapi melakukan mitigasi bencana. Luwu Utara harus bisa mengurangi risiko bencana dengan kolaborasi semua pihak. Salah satu caranya dengan membentuk masyarakat yang Tangguh bencana.

“Saya sudah melakukan penelitian yang hasilnya menunjukkan, kondisi di hulu beberapa sungai di Masamba adalah batuan granit yang ketika lapuk menjadi pasir. Ditambah dengan faktor utama berupa hujan, maka ancaman banjir pasir harus senantiasa diwaspadai,” ungkapnya.

Jadi faktor utamanya adalah hujan dan kondisi alam. Tapi yang paling penting disadari adalah bencana bukan kutukan, tapi faktor alam ditambah ulah manusia.

“Maka, masyarakat harus diedukasi untuk Tangguh bencana, karena siapa pun pemimpinnya, bencana ini sudah menjadi keniscayaan,” tegasnya pada talkshow yang diselenggarakan KKLR belum lama ini. ($)

banner 336x280